NasionalPolitik

Akun WhatsApp Aktivis Pengkritik Pemerintah Diretas Jelang Acara Simposium

×

Akun WhatsApp Aktivis Pengkritik Pemerintah Diretas Jelang Acara Simposium

Sebarkan artikel ini
Acara simposium yanf dihadiri Mohammad Bifa Agusriyanto.
Acara simposium yanf dihadiri Mohammad Bifa Agusriyanto.

BOGOR, Rilpolitik.com – Tokoh aktivis muda, Mohammad Bifa Agusriyanto mengaku dirinya mendapatkan teror digital berupa peretasan akun WhatsApp pribadinya.

Hal itu diungkap Bifa dalam acara Simposium Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMARA) pada Selasa (30/6/2026). Menurut Bifa, peretasan itu terjadi sesaat sebelum dirinya menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut.

Acara tersebut mengangkat tema krusial, “Menarasikan Ulang Arah Negara di Tengah Krisis Kepercayaan Republik” dengan dihadiri ratusan mahasiswa.

Bagi Bifa, peretasan WhatsApp pribadinya itu sebagai bentuk pembungkaman terhadap aktivis. Dia mengatakan hal itu sebagai pola lama yang terus berulang. Menurutnya, serangan digital tersebut justru menjadi indikator nyata atas kondisi psikologis elite penguasa saat ini.

“Aksi peretasan hari ini bukan hal baru. Namun, inisanya menjadi sinyal kuat bahwa kekuasaan sudah mulai ketakutan dengan suara-suara kritis masyarakat, terlebih di tengah-tengah kondisi kepercayaan publik yang kian merosot terhadap republik,” kata Bifa secara lantang di hadapan peserta simposium.

Bifa mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk tidak gentar menghadapi berbagai bentuk represi, baik fisik maupun digital. Bagi Bifa, ancaman cyber seperti peretasan WhatsApp yang ia alami adalah bagian dari risiko yang harus diambil dalam garis perjuangan.

“Saya menegaskan bahwa saya tidak akan pernah takut, walaupun harus dihadapkan pada berbagai teror. Ini sudah menjadi konsekuensi logis dari perjuangan rakyat yang harus kita menangkan,” tutup Bifa disambut riuh tepuk tangan peserta simposium.

Bifa mengecam keras segala bentuk teror digital yang menyasar kelompok kritis dan mendesak ruang demokratisasi digital tetap dijaga dengan aman dan inklusif.

Kepada rilpolitik.com,
Bifa menyampaikan bahwa peretasan itu masih terus berlanjut hingga hari ini, Rabu (1/7/2026). Tak hanya peretasan, ia juga mengaku dibuntuti orang tidak dikenal (OTK).

“Sebenarnya bukan hanya peretasan HP, tapi ada anak yang mengikuti dan pelacakan lokasi berkali-kali,” tutur dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *