JAKARTA, Rilpolitik.com – Di tengah geliat dunia yang makin digital dan urban, sektor pertanian sering kali dipinggirkan—dianggap kuno, lamban, dan tak menarik. Namun di balik gemuruh pembangunan kota, tanah-tanah desa tetap setia memberi makan bangsa. Dan kini, suara dari sawah dan ladang itu kembali nyaring, berkat satu sosok yang mendobrak pakem birokrasi lama: Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian.
Sudaryono hadir bukan dengan jargon, melainkan dengan kerja. Ia tidak sibuk menyusun pidato, tetapi memilih turun ke lapangan—menyapa petani, mendengar keluh kesah mereka, dan menjahit kembali harapan yang selama ini koyak oleh sistem yang tak berpihak. Ia bukan pejabat yang duduk tinggi di atas podium, tetapi pemimpin yang berdiri sejajar dengan rakyatnya.
Bagi Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAM-I), kehadiran Sudaryono adalah angin perubahan yang telah lama ditunggu. “Beliau bukan hanya menggerakkan program, tapi menghidupkan kembali semangat bertani yang sempat padam. Ini bukan soal data semata, tapi soal nyawa—jiwa bangsa yang bertumpu pada tanahnya sendiri,” ujar Asip Irama, Koordinator Nasional HAM-I, dalam pernyataan tertulis, Rabu (28/5/2025).
Program-program seperti Kopdes Merah Putih, Forum Petani Muda, dan mekanisasi alat pertanian bukan sekadar kebijakan administratif. Mereka adalah benih-benih harapan yang ditanam di tengah tanah yang sempat tandus oleh pengabaian. Dan kini, benih itu mulai tumbuh.
Angka memang bisa bicara: produksi beras naik 51 persen, jagung meningkat 39 persen. Tapi lebih dari itu, ada hal yang tak bisa dihitung: keyakinan baru yang tumbuh di hati petani. Bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa negara hadir, bukan sekadar sebagai pengatur, tapi pelindung dan penggerak.
Langkah-langkah berani untuk mengendalikan impor singkong dan tapioka pun dibaca sebagai bentuk keberanian untuk membela harga diri petani lokal. Ini bukan anti-pasar, tapi keberanian untuk menegakkan keadilan dalam relasi yang selama ini timpang.
Namun yang paling menggembirakan, menurut HAM-I, adalah bangkitnya semangat anak muda untuk kembali ke tanah. Di banyak tempat, petani muda mulai tumbuh, bukan karena terpaksa, tetapi karena merasa itu adalah jalan hidup yang bermartabat. Pendapatan yang bisa mencapai Rp10–20 juta per bulan hanyalah lapisan permukaan. Di baliknya, ada kebanggaan yang tak ternilai: menjadi bagian dari tulang punggung negeri.
“Ketika anak muda memutuskan bertani bukan karena tidak ada pilihan, tapi karena memang itu pilihan terbaik, maka kita tahu: sesuatu yang besar sedang berubah,” kata Asip.
HAM-I menegaskan bahwa momentum ini tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Perlu sinergi lintas sektor—pendidikan, keuangan, teknologi—untuk mengubah pertanian dari sekadar aktivitas ekonomi menjadi arena peradaban. Pertanian harus menjadi ruang inovasi, kreativitas, dan pembaruan sosial.
Sudaryono mungkin hanya satu orang. Tapi dalam dirinya, bangsa ini melihat cermin: bahwa perubahan tak selalu datang dari atas, tapi dari yang berani turun dan menyatu dengan tanah.
“Petani muda yang maju, desa yang hidup, dan pangan yang berdaulat—itulah tiga tiang penyangga kedaulatan kita. Jika itu tegak, maka Indonesia tak akan pernah lapar, tak akan pernah tunduk,” pungkas Asip.
















