JAKARTA, Rilpolitik.com – Nama Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman digadang-gadang maju sebagai calon Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjelang muktamar yang akan digelar sekitar Agustus-September 2025.
Direktur Lingkar Studi Politik Indonesia (LSPI), Subairi Muzakki menilai Amran memiliki peluang menjadi Ketum PPP jika maju pada muktamar mendatang. Sebab, menurutnya, Amran memiliki dua modal besar, yakni popularitas dan finansial.
Subairi mengatakan Amran sebagai Mentan memiliki track record yang bagus di mata publik. Amran disebut berhasil mewujudkan Indonesia swasembada pangan.
“Secara kotokohan, dia (Amran) oke. Kedua, dia juga punya panggung yang bagus, sudah jadi Mentan dua periode di era Jokowi, dan sekarang Mentan lagi. Dan visinya juga bagus lah ya. Tahun ini dia berhasil mewujudkan swasembada pangan, dalam arti kita sudah tidak impor beras lagi. Karena itulah namanya cukup bagus di publik,” kata Subairi dalam podcast yang tayang di channel Youtube Politika ID pada Selasa (3/6/2025).
Penulis buku ‘Ibu Politik, Anak Kekuasaan’ itu juga menyebut Amran punya kekuatan modal berupa finansial lantaran disebut-sebut memiliki hubungan kekerabatan dengan pengusaha besar Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.
“Dari sisi modal kapital, karena dia keterkaitannya dengan sepupunya, Haji Isam
yang oligark baru disebut oleh Tempo, itu juga bagus,” ujarnya.
Dua kekuatan itu, finansial dan popularitas, kata Subairi, bisa menjadi modal yang cukup bagi Amran untuk maju sebagai Caketum PPP.
Terlebih, Amran saat ini masih berada dalam lingkaran kekuasaan. Hal itu disebut sesuai dengan kebutuhan PPP hari ini.
“Nah dalam hal ini, (Amran memiliki) kapital financial oke, kapital sosial dalam arti popularitas ketokohan juga bagus. Ditambah, dia memang masih berada dalam lingkaran kekuasaan yang itu sangat dibutuhkan untuk PPP hari ini untuk mengakselerasi mesin politiknya,” ucapnya.
Namun, lanjut Subairi, Amran memiliki tantangan yang harus diselesaikan sebelum maju sebagai Caketum PPP yang notabene partai Islam. Sebab, pria asal Makassar itu bukan kader PPP dan tidak merepresentasikan diri sebagai tokoh muslim.
“Nah, tantangannya di sana, menyelaraskan antara citra Amran dengan ideologi partai dan aspirasi akar rumput. Kalau itu berhasil, itu bagus,” ujar dia.
(Ah/rilpolitik)
















