Tim Mawar, sebuah nama yang cukup diucapkan sekali untuk membuat bulu kuduk meremang. Bukan karena mitos, tapi karena sejarah. Unit legendaris dari Grup IV Kopassus yang ditakuti sekaligus disegani, terutama karena keterlibatannya dalam operasi-operasi kelam yang hingga hari ini masih menjadi perdebatan publik, termasuk dugaan penculikan para aktivis pro-demokrasi di akhir rezim Orde Baru.
Namun sejarah tidak selalu berhenti di masa lalu. Ia bisa melompat, bahkan berbalik arah. Hari ini, beberapa mantan anggota Tim Mawar duduk di kursi-kursi penting di pemerintahan. Mereka tak lagi menyusup di kegelapan malam, tapi terang-terangan diberi mandat negara.
Lalu apa maksud Presiden Prabowo?
Apakah ini bentuk rehabilitasi?
Atau sinyal bahwa strategi militer kini sah digunakan di ladang birokrasi yang korup?
Sebagai rakyat biasa yang saban hari menghirup aroma keringat petani, garam dan nelayan, saya cuma bisa berasumsi dengan intuisi. Tapi satu yang terasa: Eks Tim Mawar sedang bersiap, dan bukan untuk penculikan seperti 1998. Bisa jadi mereka ditugaskan menculik hal-hal yang lebih busuk, menculik kebiasaan mencuri pajak, menculik tabiat maling anggaran, menculik nafsu mafia narkoba dan mafia pupuk yang membunuh generasi dan petani pelan-pelan.
Saya melihat ini bukan semata penempatan orang militer di pos sipil. Ini penugasan strategis, semi-operasi senyap dengan gaya ala Sandhi Yudha, perang intelijen khas Kopassus. Presiden Prabowo mulai menurunkan pasukan ke titik-titik strategis, ada Letnan Jenderal di Bea Cukai, ada jenderal yang dipasang untuk mengamankan distribusi pangan, hingga TNI kini menjadi penjaga jalur logistik dan cyber.
Ya, ini bukan darurat sipil, ini darurat moral. Negara sudah dikepung oleh kolaborasi tikus berdasi, maka jalan satu-satunya: turunkan pasukan. Apakah ini militerisme? Tidak. Ini respons adaptif dari negara terhadap situasi yang tak lagi bisa dihadapi dengan cara biasa.
Ketika kantor-kantor pemerintahan jadi ladang kompromi politik, ketika hukum berubah jadi komoditas, maka yang dibutuhkan adalah ketegasan, dan siapa yang lebih terlatih untuk itu kalau bukan para mantan prajurit? Tentu tidak semua senang. Di dunia maya, Presiden Prabowo terus menjadi sasaran kritik dan ejekan. Dituduh tak punya taring, disebut hanya bayang-bayang Presiden sebelumnya. Dikatakan sekadar melanjutkan warisan Jokowi.
Tapi bagi kami yang belajar sedikit tentang strategi, kami tahu: tindakan lebih keras dari kata-kata. Prabowo mungkin berteriak “Hidup Jokowi” di depan publik, tapi di ruang-ruang dalam, ia perlahan mengganti pion-pion yang dianggap tak loyal pada negara. Lihatlah siapa yang kini mengisi jabatan kunci, menteri pertahanan, pejabat keuangan, sampai posisi strategis di lembaga-lembaga yang tadinya identik dengan relasi Jokowi.
Semua dirombak perlahan. Tidak frontal, tapi efektif. Ini bukan sekadar politik, ini operasi bersih-bersih dengan balutan hormat. Dan Tim Mawar, yang dulu ditakuti karena bayangan masa lalu hari ini bisa jadi harapan. Mereka tahu apa itu pengkhianatan. Mereka tahu apa itu medan berbahaya. Dan jika benar mereka kini ingin menebus masa lalu dengan menjaga negara yang terus terjadi pembusukan dari dalam, bukankah itu sepatutnya kita beri ruang?
Kami bukan pendukung buta. Kami rakyat kampung yang tetap membayar listrik seperti orang kaya. Rokok kami tetap dikenai cukai seperti rokok orang Jakarta.
Kami tak punya jalur ke istana, tapi kami tahu betul bahwa negara ini tak bisa lagi dibiarkan melayang-layang di tangan orang-orang pintar yang licik. Kami ingin presiden yang tidak cuma merayakan demokrasi dengan pesta, tapi menegakkan disiplin dengan operasi. Jika Prabowo benar-benar ingin menculik penyakit bangsa ini, jika benar Tim Mawar Reborn bukan sekadar nostalgia tapi regenerasi loyalitas kepada rakyat, maka kami siap menyambut, meski dengan tetap waspada.
Dan jika suatu hari nanti korupsi benar-benar diculik dari negeri ini, kami rakyat miskin akan kirim bunga. Bunga Mawar, tentu saja. “Yang paling layak diculik hari ini bukan aktivis, melainkan mental pengkhianat di tubuh negara.”
Catatan Anak Kampung, dari pulau miskin yang terus menyumbang pajak dan harapan “Madura Provinsi.” (*)
*Penulis adalah Fauzi As, pengamat kebijakan publik.
**DISCLAIMER: Tulisan ini merupakan pandangan pribadi sang penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

![Jokowi dan Gibran. [Foto: antara]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/1000062555-350x220.jpg)









![Jokowi dan Gibran. [Foto: antara]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/1000062555-180x130.jpg)




