Kerusakan ekologis di negeri ini bukan lagi sekadar fenomena yang bisa diabaikan atau dinormalisasi. Ia telah menjadi wajah keseharian kita, dari rusaknya hutan Kalimantan yang semula dijuluki “paru-paru dunia”, hingga polusi udara yang terhirup saban waktu, tanpa kita sadari sedang menggerus kualitas hidup kita sendiri.
Ekosistem tidak hanya berubah, tetapi perlahan hancur akibat eksploitasi manusia yang berlebihan atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Yang tragis, kehancuran itu bukan tanpa sebab melainkan konsekuensi dari perilaku modern yang tidak menempatkan alam sebagai bagian dari kehidupan sakral, melainkan hanya sebagai objek material semata.
Fenomena hewan liar yang masuk ke pemukiman warga, seperti yang terjadi di Sumatera, bukan kejadian acak, melainkan sinyal bahwa rumah mereka telah kita rampas. Kita sedang dipertontonkan pada sebuah teater kehancuran, di mana manusia menjadi sekaligus pemeran utama dan penonton yang pasif.
Persoalan kerusakan alam ini tidak hanya dapat dijelaskan lewat data ilmiah semata, tetapi juga harus diletakkan dalam kerangka pemahaman yang lebih mendalam secara teoretis dan filosofis.
Dalam filsafat, dikenal dua cara utama manusia memahami realitas, melalui logos dan mitos. Logos adalah akal budi, rasionalitas, dan sains yang menjadi landasan utama cara berpikir masyarakat modern. Sedangkan mitos adalah cara berpikir simbolik dan naratif yang bersandar pada imajinasi, pengalaman batin, dan kesakralan.
Dalam sejarah panjang peradaban manusia, keduanya hadir bukan sebagai pertentangan, melainkan sebagai dua jalan pemahaman yang saling melengkapi. Sayangnya, modernitas menggeser mitos sebagai irasional, primitif, dan tak ilmiah. Padahal, justru dalam mitoslah manusia belajar menaruh hormat kepada alam, memperlakukannya sebagai entitas hidup, bukan sekadar sumber daya. Masyarakat modern kehilangan sensibilitas ini. Akibatnya, relasi manusia dengan alam menjadi kering secara spiritual dan estetis.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pernah menyampaikan bahwa dunia telah melewati era pemanasan global dan kini memasuki era “pendidihan global”, sebuah istilah metaforis yang menandai kedaruratan dari planet bumi.
Pernyataan itu menegaskan bahwa krisis lingkungan bukan sekadar masalah teknis, tetapi menyangkut eksistensi. Kita telah menghadapi perubahan iklim yang ekstrem, punahnya spesies, dan pencemaran yang meluas.
Namun respons manusia tetap berada dalam paradigma logos yang bicara tentang emisi karbon, teknologi penyaring udara, pengelolaan limbah, dan solusi teknis lainnya. Kita lupa, bahwa alam juga membutuhkan pendekatan simbolik dan spiritual. Ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merasakan keajaiban dari sebatang pohon atau semilir angin, maka sesungguhnya ia telah kehilangan sebagian dari kemanusiaannya.
Inilah saatnya untuk menghidupkan kembali eksistensi alam yang imajinatif sebagai cara pandang yang tidak hanya rasional, tetapi juga menyentuh dimensi puitik dan batiniah dari kehidupan manusia.
Pandangan masyarakat klasik terhadap alam menawarkan pelajaran yang sangat relevan. Dalam kebudayaan mereka, alam dipandang sebagai bagian dari kosmos yang sakral. Gunung bukan hanya tumpukan tanah tinggi, tetapi juga tempat bersemayamnya roh leluhur. Sungai bukan hanya aliran air, tetapi juga jalur kehidupan dan keberkahan.
Lewat mitos, mereka membangun relasi emosional, spiritual, dan estetis dengan alam. Ritual dan upacara menjadi cara mereka menjaga harmoni ekologis. Alam bukan hanya dihuni, tetapi juga dihormati. Dalam pandangan ini, tidak ada pemisahan antara manusia dan alam, keduanya terjalin dalam jejaring kehidupan yang saling menopang.
Beda halnya dengan cara pandang modern yang menilai alam hanya dari segi nilai guna dan efisiensi ekonomi. Maka tidak heran jika hutan ditebang, sungai dicemari, dan langit dilubangi atas nama kebutuhan yang tidak pernah selesai.
Kita perlu mengakui bahwa logos dan mitos memiliki keterbatasan masing-masing. Logos tidak mampu menjawab pertanyaan mendalam tentang makna hidup atau nilai-nilai tertinggi dari eksistensi manusia. Sedangkan mitos, meskipun imajinatif dan kaya akan makna, bisa terjebak dalam dogma jika tidak dibarengi refleksi kritis. Namun, jika keduanya disatukan, kita akan memiliki cara pandang yang utuh, sains yang bijak dan spiritualitas yang reflektif.
Dalam konteks ini, mengembalikan eksistensi alam yang imajinatif bukan berarti menolak sains, tetapi mengintegrasikan dimensi simbolik dan estetis ke dalam relasi kita dengan alam. Kita perlu kembali melihat hutan sebagai rumah roh, langit sebagai kanvas keindahan, dan bumi sebagai ibu yang memberi kehidupan. Hanya dengan cara demikian, kita bisa membangun kembali kesadaran ekologis yang utuh yang tidak hanya menghitung, tetapi juga merasakan dan menghormati.
Krisis ekologis yang kita hadapi hari ini bukan hanya soal rusaknya sistem alam, tetapi juga rusaknya sistem nilai yang mendasari cara pandang kita terhadap alam. Manusia modern perlu merevisi paradigma relasinya dengan alam, dari eksploitatif menuju partisipatif, dari sekadar ilmiah menuju imajinatif.
Menghidupkan kembali cara berpikir mitos bukanlah bentuk kemunduran, melainkan sebuah lompatan kedalaman makna yang telah lama ditinggalkan. Inilah saatnya kita membangun ulang jembatan antara logos dan mitos, agar eksistensi alam tidak hanya bertahan secara ekologis, tetapi juga hidup kembali dalam imajinasi dan kesadaran kita yang terdalam. (*)
*Penulis adalah Mahasiswa Unitri Malang, M Anwarul Hidayat.
DISCLAIMER: Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan menjadi tanggung jawab sang penulis.



![Jokowi dan Gibran. [Foto: antara]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/1000062555-350x220.jpg)









![Jokowi dan Gibran. [Foto: antara]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/1000062555-180x130.jpg)


