NasionalPolitik

Gus Yahya: Saya Terbuka untuk Diperiksa Terhadap Apa pun yang Dituduhkan ke Saya

×

Gus Yahya: Saya Terbuka untuk Diperiksa Terhadap Apa pun yang Dituduhkan ke Saya

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. [Foto: Instagram Gus Yahya]

JAKARTA, Rilpolitik.com – Para sesepuh dan alim ulama Nahdlatul Ulama (NU) menggelar Musyawarah Kubro di Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/12/2025). Musyawarah ini untuk menyikapi konflik yang melanda internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Kegiatan ini dihadiri jajaran Mustasyar PBNU, di antaranya KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, KH Ma’ruf Amin, KH Said Aqil Sirodj, KH Muhammad Nuh Addawami, dan KH Zaki Mubarok.

Selain itu, hadir jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah, pimpinan lembaga dan badan otonom tingkat pusat, para pengasuh pondok pesantren, serta 521 PWNU dan PCNU hadir secara fisik dan 197 PWNU dan PCNU mengikuti secara daring.

Hadir pula Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf beserta jajarannya. Sementara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar tidak hadir.

Musyawarah Kubro ini menghasilkan tiga poin keputusan:

1. Memohon agar kedua belah pihak melakukan islah dengan batas waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari, terhitung sejak Ahad, 21 Desember 2025 pukul 12:00 WIB.

2. Jika tidak ditemukan kesepakatan untuk islah, maka kedua belah pihak harus menyerahkan mandat kepada mustasyar untuk membentuk panitia muktamar yang netral dengan batas waktu paling lama 1 hari ke depan, terhitung sejak batas akhir islah.

3. Jika opsi 1 dan 2 tidak terpenuhi, maka para peserta sepakat untuk mencabut mandat dan mengusulkan segera penyelenggaraan muktamar luar biasa (MLB) yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan PWNU dan PCNU yang hadir. Adapun waktu paling lambat penyelenggaraan muktamar luar biasa tersebut, sebelum rombongan haji Indonesia kloter pertama diberangkatkan.

Gus Yahya yang hadir di lokasi mendapat kesempatan untuk berbicara dalam forum tersebut. Momen ini diunggah oleh Gus Yahya melalui akun media sosialnya. Gus Yahya dalam forum tersebut menyampaikan sikapnya atas hasil musyawarah.

“Saya hanya mohon izin untuk menyampaikan dua taklimat terkait sikap saya atas semua yang telah menjadi ijtihad dan kesepakatan pada hari ini,” kata Gus Yahya dalam unggahannya di Instagram, dikutip Senin (22/12/2025).

“Pertama, saya senantiasa terbuka untuk diperiksa dan ditabayunkan terhadap apa pun yang dituduhkan kepada saya, melalui cara apa pun, dengan menghadirkan semua bukti dan semua saksi yang diperlukan,” lanjutnya.

Gus Yahya menegaskan dirinya sejak awal memang menginginkan islah sebagai jalan mengakhiri konflik kepemimpinan di PBNU.

“Sejak detik pertama saya senantiasa menginginkan islah. Saya siap bina al-haq bina al-haq bina al-haq, bukan bina al-batil,” ujarnya.

Gus Yahya juga menyatakan sepenuhnya patuh atas keputusan PWNU dan PCNU yang telah disepakati dalam forum Musyawarah Kubro.

“Saya sepenuhnya taslim kepada apa yang telah disepakati oleh keputusan PWNU dan PCNU, serta tafsir dari para mustasyar,” tegasnya.

Dia pun mengaku langsung menghubungi Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar yang pada intinya meminta untuk bertemua, namun belum mendapat jawaban.

“Begitu mendengar apa yang disampaikan dari kesepakatan PWNU dan PCNU, saya langsung mengirim pesan kepada Rais Aam, memohon waktu untuk bertemu. Sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban,” tuturnya.

“Saya akan menunggu sampai 3 x 24 jam dan saya akan melaporkan hasilnya. Terima kasih,” pungas Gus Yahya.

(War/rilpolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *