JAKARTA, Rilpolitik.com – Mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago mencurigai proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall sepanjang 500 kilometer yang akan membentang dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur, sebagai proyek oligarki.
Mulanya, Andrinof menyoroti sikap beberapa politisi hingga pengamat yang menuduh pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai proyek oligarki, tetapi justru diam dengan proyek pembangunan tanggul laut raksasa.
Andrinof menegaskan bahwa pembangunan ibu kota baru Indonesia tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui riset beberapa tahap.
“IKN yang didasarkan pada riset beberapa tahap dituduh oleh beberapa pengamat yang malas meneliti sebagai proyek oligarki,” kata Andrinof dalam unggahannya di akun Facebook miliknya pada Rabu (10/9/2025).
“Sampai saat ini saya menunggu suara tuduhan Proyek Oligarki untuk Proyek Tanggul Raksasa 500 kilometer dari Banten hingga Gresik kok belum juga terdengar, ya?” imbuhnya.
Andrinof merasa prihatin dengan kondisi bangsa yang diangap tidak fair melihat berbagai persoalan.
“Saya makin prihatin dengan bangsa ini karena tidak mau fair, tidak jujur dan tidak konsisten (dan, maaf, mungkin juga pengecut). Itu bukan hanya para politisi, tetapi juga yang mengklaim diri sebagai pengamat, orang kritis dan intelektual,” ujarnya.
Bagi Andrinof, justru proyek tanggul laut raksasalah yang lebih beralasan untuk dicurigai sebagai proyek oligarki. Ia menyebut proyek itu sebagai super megaproyek properti raksasa dunia dengan kedok melindungi rakyat Pantura Jawa.
“Sebagai akademisi Ekonomi-politik dan Kebijakan Publik, saya justru lebih beralasan untuk mencurigai proyek tanggul raksasa itu sebagai Super-megaproyek Properti Raksasa di dunia dengan mengatasnamakan tujuan ‘melindungi rakyat di Pantura Jawa’,” ungkapnya.
“Bukankah tanggul plus reklamasi = Megaproyek properti? Bukankah ‘Kota baru’ di zaman Orde Baru adalah nama untuk memframing megaproyek properti sebagai proyek penyediaan rumah padahal itu proyek properti dengan sasaran konsumen kelas menengah atas?” tambah dia.
“Miriplah dengan framing Proyek Jembatan Selat Sunda yang diatasnamakan sbg Proyek Mengatasi Masalah Macet di Penyeberangan Merak-Bakauheni,” pungkas Andrinof.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto telah memutuskan untuk membangun proyek giant sea wall di Pesisir Utara Pulau Jawa. Proyek ini akan membentang dari Banten, ke Jakarta hingga ujung Jawa Timur.
Menurut Prabowo, proyek ini sudah direncanakan sejak tahun 1995 atau 30 tahun yang lalu. Meski terkesan terlambat, namun Prabowo tetap akan membangun proyek raksasa dan sangat vital ini.
“Saya ingin proyek infrastruktur yang sangat vital bagi kita yang merupakan mega proyek yang akan kita laksanakan adalah Giant Sea Wall tanggul laut utara Jawa. Proyek ini vital dan masuk perencanaan Bappenas sejak tahun 1995,” ungkap Prabowo saat penutupan International Conference on Infrastructure 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (12/6/2025).
Prabowo menuturkan, investasi yang dibutuhkan untuk membangun proyek ini mencapai US$ 80 miliar atau Rp 1.298 triliun (kurs Rp 16.229/US$). Proyek ini diperkirakan membutuhkan waktu 20 tahun.
(Ah/rilpolitik)

![Pengamat politik senior, Saiful Mujani. [Tangkapan layar]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260405-WA0004-350x220.jpg)









![Pengamat politik senior, Saiful Mujani. [Tangkapan layar]](https://rilpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260405-WA0004-180x130.jpg)




