NasionalPolitik

Sengereng, Sibaliperi, dan Jalan Tengah Pancasila

×

Sengereng, Sibaliperi, dan Jalan Tengah Pancasila

Sebarkan artikel ini
Hafid Abbas.
Hafid Abbas.

Oleh: Hafid Abbas
Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ)


Bagi pelaut Bugis-Makassar, perahu adalah rumah kehidupan. Di mana pun perahu itu bersandar, kehadirannya diikhtiarkan membawa kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Ketika sesama menghadapi kesulitan, semangat kebersamaan mendorong setiap orang untuk mengulurkan tangan dan meringankan beban satu sama lain.

Nilai-nilai tersebut berakar dalam khazanah kebudayaan Bugis-Makassar, khususnya melalui konsep “sengereng” dan “sibaliperi”. Keduanya menawarkan pelajaran penting tentang bagaimana seseorang mengembangkan potensi dirinya sekaligus memelihara kepedulian terhadap sesama—sebuah prinsip yang tetap relevan bagi masa depan Indonesia.

Di tengah pembangunan yang kerap diukur melalui pertumbuhan ekonomi, investasi, dan kemajuan teknologi, kita perlu kembali mengajukan pertanyaan mendasar: apakah kemajuan telah membuat manusia semakin bermartabat dan masyarakat semakin berkeadilan?

Bangsa yang besar tidak cukup hanya menghasilkan kekayaan. Bangsa juga harus mampu membangun kepercayaan, memelihara solidaritas, dan mewariskan kebaikan kepada generasi berikutnya.

Meninggalkan warisan kebaikan

Dalam khazanah Bugis-Makassar, sengereng dapat dimaknai sebagai kebaikan yang meninggalkan kesan mendalam dan terus dikenang. Nilai ini tercermin dalam ungkapan, “Tega sanre lopimmu, kosiko-tu taro sengereng.”

Di mana pun perahumu bersandar, di situlah engkau meninggalkan kebaikan yang akan dikenang selamanya.

Perahu dalam ungkapan tersebut menggambarkan perjalanan kehidupan manusia. Kita mungkin berpindah tempat, menduduki berbagai jabatan, memperoleh kekayaan, atau mencapai prestasi. Namun, nilai kehidupan tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang berhasil dikumpulkan, melainkan juga oleh manfaat yang kita tinggalkan.

Dalam perspektif ini, sengereng merupakan warisan moral yang melampaui usia biologis seseorang. Tubuh dapat menua dan kehidupan berakhir, tetapi gagasan, karya, keberanian, dan pengabdian dapat terus menginspirasi generasi berikutnya.

Bacharuddin Jusuf Habibie memberikan contoh yang relevan. Warisannya tidak hanya terletak pada kedudukannya sebagai presiden atau reputasinya sebagai ilmuwan, tetapi juga pada keyakinannya bahwa Indonesia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun kemandirian bangsa.

Tentu, warisan seorang tokoh perlu dinilai secara proporsional, termasuk melalui keputusan dan keterbatasannya. Namun, pelajaran pentingnya tetap jelas: kemampuan individu memperoleh makna yang lebih besar ketika diabdikan bagi kepentingan bersama.

Tidak semua orang harus menjadi ilmuwan besar atau kepala negara untuk meninggalkan sengereng. Seorang guru yang mendidik dengan ketulusan, petani yang bekerja dengan tekun, peneliti yang menghasilkan pengetahuan, dan pejabat yang menjalankan amanah secara jujur juga dapat meninggalkan warisan kebaikan.

Martin Luther King Jr. pernah menyampaikan gagasan yang menyentuh ketika menegaskan bahwa setiap orang dapat menjadi besar karena setiap orang dapat melayani. Kebesaran manusia, dengan demikian, tidak selalu ditentukan oleh tingginya kedudukan, tetapi oleh kesediaannya memberikan manfaat yang didasari kasih sayang.

Solidaritas sebagai kekuatan bangsa

Jika sengereng menekankan makna kehidupan melalui warisan kebaikan, sibaliperi mengingatkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri.

Kita tumbuh melalui keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, dan pengetahuan yang diwariskan banyak generasi. Bahkan keberhasilan yang tampak sebagai pencapaian pribadi hampir selalu ditopang oleh kerja sama dan kepercayaan orang lain.

Sibaliperi menegaskan kesediaan untuk saling membantu dan menguatkan, baik dalam keadaan suka maupun duka. Nilai ini bukan sekadar anjuran untuk bermurah hati, melainkan kesadaran bahwa kehidupan bersama melahirkan tanggung jawab bersama.

Ketika anak-anak tidak memperoleh pendidikan bermutu, ketika masyarakat terpencil kesulitan mengakses layanan kesehatan, atau ketika keluarga terjebak dalam kemiskinan, kita tidak cukup hanya menyalahkan individu. Kita juga harus memeriksa ketimpangan kesempatan, kualitas pelayanan publik, dan kebijakan yang membentuk kehidupan mereka.

Solidaritas tidak berarti menghapus kemandirian. Justru, bantuan yang baik seharusnya memperkuat kemampuan seseorang untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang membuat semua orang bergantung, melainkan masyarakat yang memastikan setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang.

Semangat ini sejalan dengan nilai Bugis-Makassar lainnya: sipakatau, saling memanusiakan; sipakainge, saling mengingatkan; dan sipakalebbi, saling menghargai.

Ketiganya menegaskan bahwa perbedaan kemampuan, kekayaan, dan kedudukan tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan martabat manusia.

Melampaui pertentangan ideologi

Dalam sejarah pemikiran modern, pembangunan sering ditempatkan di antara dua kutub: kebebasan individu dan kepentingan kolektif, kapitalisme dan sosialisme, atau orientasi Barat dan Timur.

Tradisi liberal memberikan sumbangan penting melalui perlindungan kebebasan, hak individu, dan pembatasan kekuasaan. Sebaliknya, tradisi sosialistik mengingatkan bahwa kebebasan formal tidak selalu berarti kesempatan yang nyata bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan atau mengalami diskriminasi.

Keduanya memiliki pelajaran berharga. Kebebasan tanpa solidaritas dapat memperlebar kesenjangan. Sebaliknya, kesetaraan yang dipaksakan dengan mengorbankan kebebasan dapat melahirkan penyeragaman dan dominasi.

Sengereng dan sibaliperi menawarkan jalan untuk mempertemukan kedua kepentingan tersebut. Nilai pertama mendorong manusia mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya terbaik. Nilai kedua mengingatkan bahwa kesempatan untuk berkembang harus ditopang oleh lingkungan sosial yang adil.

Keduanya tidak menghapus perbedaan antara individu dan masyarakat, tetapi memperlihatkan bahwa keduanya dapat saling menguatkan. Individu yang berdaya mampu memberikan kontribusi lebih besar, sedangkan masyarakat yang solidaristik membuka ruang bagi lebih banyak orang untuk berkembang.

Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya.

Pancasila bukan sekadar kompromi di antara berbagai ideologi. Ia merupakan landasan filosofis yang memungkinkan Indonesia mengolah nilai-nilai universal melalui pengalaman sejarah dan kebudayaannya sendiri.

Ketuhanan Yang Maha Esa mengingatkan kita pada tanggung jawab moral. Kemanusiaan yang adil dan beradab menegaskan martabat setiap individu. Persatuan Indonesia mengajarkan kebersamaan tanpa menghapus kemajemukan. Kerakyatan menuntut demokrasi yang mengutamakan kebijaksanaan dan musyawarah. Keadilan sosial memastikan bahwa pembangunan tidak hanya menguntungkan segelintir orang.

Dalam kerangka tersebut, sengereng memperkaya pemahaman kita tentang tanggung jawab individu, sementara sibaliperi memperdalam makna solidaritas. Keduanya membantu menerjemahkan Pancasila dari dasar negara menjadi etika kehidupan sehari- hari.

Dari nilai menuju tindakan

Tantangan terbesar kita bukan kekurangan slogan kebangsaan, melainkan kesenjangan antara nilai yang diucapkan dan tindakan yang dijalankan.

Dalam pendidikan, misalnya, keberhasilan tidak cukup diukur melalui ijazah dan angka kelulusan. Sekolah dan perguruan tinggi juga harus membentuk manusia yang berintegritas, kreatif, serta memiliki kepedulian sosial.

Dalam pemerintahan, jabatan seharusnya dipandang sebagai kesempatan meninggalkan kebijakan dan institusi yang bermanfaat jauh melampaui masa jabatan. Ukuran keberhasilan pemimpin bukan hanya popularitas, melainkan perbaikan nyata dalam kehidupan rakyat.

Dalam pembangunan ekonomi, inovasi, kewirausahaan, dan kompetisi perlu didorong. Namun, akses terhadap pendidikan, pembiayaan, teknologi, dan kesempatan kerja juga harus diperluas agar kemajuan tidak terkonsentrasi pada kelompok yang telah memiliki keunggulan sejak awal.

Demokrasi pun harus melampaui persaingan elektoral. Perbedaan pilihan politik tidak boleh berubah menjadi permusuhan, sedangkan kritik tidak semestinya dianggap sebagai ancaman. Supremasi hukum dan perlindungan hak asasi manusia harus berlaku bagi semua orang, tanpa membedakan kekuasaan maupun kekayaan.

Nilai-nilai lokal juga perlu dihidupkan melalui pendidikan dan kajian akademik agar tidak berhenti sebagai simbol atau romantisme masa lalu. Kebudayaan akan tetap relevan apabila mampu menawarkan jawaban terhadap persoalan zaman.

Sumbangan dari Nusantara

Dari Makassar, nilai sengereng dan sibaliperi dapat menjadi bagian dari dialog Indonesia dengan dunia. Pengalaman maritim Bugis-Makassar menunjukkan bahwa identitas yang kuat tidak harus membuat masyarakat tertutup terhadap perjumpaan dan pertukaran gagasan.

Di tengah konflik, ketimpangan, dan persaingan geopolitik, dunia membutuhkan manusia yang mampu berinovasi tanpa kehilangan empati, masyarakat yang menghargai prestasi tanpa meninggalkan kelompok rentan, serta negara yang kuat tanpa menyalahgunakan kekuasaan.

Indonesia tidak harus memilih antara menghargai individu dan memperjuangkan kepentingan bersama. Pancasila memungkinkan keduanya berjalan beriringan, dengan tetap menghormati kebebasan, kemajemukan, demokrasi, dan keadilan.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa tinggi seseorang berhasil mencapai kedudukan, melainkan apa yang diwariskannya bagi kehidupan. Bukan pula seberapa besar kekuatan suatu masyarakat, melainkan seberapa kuat masyarakat itu menopang anggotanya ketika menghadapi kesulitan.

Sengereng mengajarkan kita untuk meninggalkan kebaikan di mana pun berada. Sibaliperi mengingatkan kita untuk tidak membiarkan sesama menghadapi kehidupan sendirian.

Apabila keduanya dihidupkan dalam pengamalan Pancasila, pembangunan kebangsaan tidak lagi sekadar mengejar kemajuan material. Ia menjadi ikhtiar membangun manusia yang bermartabat, masyarakat yang saling menopang, dan negara yang menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat.

Sebab, ukuran tertinggi kemajuan bangsa bukan hanya seberapa tinggi individu- individunya mampu terbang, melainkan juga seberapa luas kebaikan yang mereka tinggalkan dan seberapa kuat mereka saling menopang agar seluruh bangsa dapat terbang bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *