NasionalPolitik

Koalisi Gemuk Khofifah Dinilai Tak Menguntungkan Bagi Emil Dardak, Kenapa?

4361
×

Koalisi Gemuk Khofifah Dinilai Tak Menguntungkan Bagi Emil Dardak, Kenapa?

Sebarkan artikel ini
Caption: Emil Elestianto Dardak. [Tangkapan layar]

SURABAYA, Rilpolitik.com – Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam mengatakan besarnya dukungan partai politik (parpol) terhadap Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jawa Timur 2024 justru tidak menguntungkan bagi Emil Elestianto Dardak. Sebab, katanya, setiap parpol akan mengajukan kader sendiri untuk memperebutkan kursi Cawagub pendamping Khofifah.

Sebagai catatan, saat ini Khofifah sudah mengantongi 4 rekom parpol untuk maju sebagai Cagub Jatim 2024. Keempat parpol itu antara lain Gerindra, Golkar, PAN, dan Demokrat.

Dari empat parpol itu, cuma Demokrat yang sudah memberikan rekomendasi sepaket, Khofifah-Emil Dardak. Sedangkan tiga partai lainnya masih alot untuk menerima Emil Dardak sebagai Cawagub.

Bahkan, Khofifah mengklaim masih akan ada tiga parpol lain yang akan merekom dirinya sebagai Cagub Jatim 2024. Hal ini tentu akan semakin tidak menguntungkan bagi Emil Dardak karena perebutan kursi Cawagub akan semakin kompetitif.

“Semakin besar koalisi Bu Khofifah, kian tidak menguntungkan untuk Mas Emil,” kata Surokim saat dihubungi rilpolitik.com melalui sambungan telepon pada Kamis (2/4/2024).

Terlebih, kata Surokim, posisi tawar Demokrat tidak terlalu kuat secara politik karena perolehan kursinya pada Pileg 2024 lebih rendah ketimbang Gerindra dan Golkar.

“Demokrat sendiri perolehan suaranya kan kalah dari partai-partai lain, misal Gerindra, Golkar dan lain-lain. Jadi secara partai tidak terlalu kuat,” jelas dia.

Surokim mengatakan saat ini Emil Dardak diuntungkan oleh Khofifah yang masih menyatakan keinginannya untuk tetap berduet dengan Emil Dardak di Pilgub Jatim 2024.

“Selama ini kan karena ada jaminan dari Bu Khofifah. Makanya kalau koalisi Bu Khofifah semakin gemuk, posisinya semakin tidak menguntungkan untuk Mas Emil,” terangnya.

“Tapi kalau koalisi pengusung Bu Khofifah ramping, itu menguntungkan Mas Emil,” sambung dia.

Lebih lanjut, Surokim mengungkapkan, posisi Cawagub Khofifah di Jatim menjadi rebutan partai politik karena menyangkut masa depan parpol di Pilgub Jatim 2029.

“Sehingga pertempuran ini sebenarnya bukan persoalan suka tidak suka terhadap mas Emil, tetapi lebih ke positioning partai karena semua ingin mencari pengaruh di Jawa Timur,” ucapnya.

Menurut dia, figur yang menjadi Cawagub Khofifah di 2024 berpotensi menjadi Cagub pada Pilkada Jatim 2029 mendatang.

“Menjadi cawagubnya Bu Khofifah itu menjanjikan untuk kontestasi ke depannya,” ujarnya.

“Itu yang kemudian partai-partai politik pada berebut (kursi Cawagub),” tandas Wakil Rektor UTM itu.

(Ah/rilpolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *