NasionalPolitik

Cara Jokowi Menangkan Prabowo-Gibran: Gembosi Oposisi Hingga Buntuti Kampanye Ganjar

6801
×

Cara Jokowi Menangkan Prabowo-Gibran: Gembosi Oposisi Hingga Buntuti Kampanye Ganjar

Sebarkan artikel ini
Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

JAKARTA, Rilpolitik.com – Pendiri Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Hendri Satrio membongkar strategi Presiden Joko Widodo memenangkan Prabowo-Gibran dalam pertarungan Pilpres 2024.

Dia menyebut hal pertama yang Jokowi lakukan adalah menggembosi koalisi perubahan sebagai oposisi pemerintah pada September 2023. Setelah berantakan, katanya, dua partai politik dari koalisi tersebut, yakni Demokrat dan PKS dibuat seolah tidak penting dalam kontestasi Pilpres 2024.

“Mengapa “tidak penting”? Sebab Koalisi masing-masing jumlah suara syarat threshold sudah cukup,” kata Hendri dikutip dari akun X-nya pada Senin 18/3/2024).

Dia mengatakan, Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mengusung Prabowo-Gibran tidak membutuhkan suara Demokrat. Begitu juga dengan Nasdem dan PKB tidak membutuhkan suara PKS untuk mengusung Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN). Itu sebabnya PKS tidak hadir saat deklarasi dadakan AMIN di Surabaya.

“Akibat dari 2 poin di atas maka sesungguhnya Gerakan Perubahan yang akan berimbas pada elektoral sudah sukses “dimatikan” oleh Jokowi sejak deklarasi AMIN itu sendiri, walaupun Gerakan Perubahan non elektoral masih bergema bahkan hingga saat ini dan mungkin akan terus menggema,” ujarnya.

Setelah Gerakan Perubahan “masuk kotak”, lanjutnya, maka fokus Jokowi adalah menahan laju elektoral Ganjar-Mahfud (GAMA). Salah satunya dengan cara membuntuti kampanye Ganjar ke daerah-daerah.

“Alhasil Jokowi lebih lincah berkampanye dibandingkan Prabowo-Gibran. Bahkan dapat dikatakan Prabowo Gibran cukup “santai” dalam berkampanye hingga mereka berdua merasa tidak perlu mundur dari jabatan Menhan dan Walikota Solo,” ungkapnya.

Strategi tersebut, kata Hendri, terbukti ampuh memenangkan Prabowo-Gibran dalam kontestasi Pilpres 2024 berdasarkan hitung cepat Lembaga Survei.

“Hal ini sukses sekaligus aneh, sebab, paling “santai” dan tidak lincah berkampanye tapi menang,” katanya.

Baca juga:  Disebut Larang Anaknya Maju Pilgub DKI, Jokowi: Tanya Kaesang

Hendri mengakui skenario Jokowi sejak Putusan Mahkamah Konsitusi (MK) hingga Prabowo-Gibran menang adalah sebuah skenario jenius yang menempatkan dia sebagai simbol zaman politik sejajar dengan Soekarno, Soeharto dan Megawati Soekarnoputri.

“Apakah Prabowo akan jadi simbol baru mengalahkan Jokowi?” ujarnya.

“Tentu bisa, hal pertama yang bisa dan penting dilakukan oleh Prabowo adalah mengundurkan diri dari Kabinet Jokowi setelah (bila) diumumkan sebagai pemenang Pilpres oleh KPU 20 Maret 2024 nanti. Kenapa Prabowo dan juga Gibran perlu mundur dari jabatan saat ini?” lanjutnya.

Dia menjelaskan, pertama, jabatan Presiden dan Wakil Presiden lebih tinggi dari jabatan Menhan dan Walikota Solo. Kedua, untuk menunjukkan bahwa mereka serius dalam mempersiapkan masa pemerintahan baru yang tidak berada di bawah bayang-bayang pemerintahan Jokowi.

“Nah, setelah Jokowi secara jenius menjalankan dan menyelesaikan rencananya maka wajar bila perhatian saat ini mengarah kepada Prabowo serta Megawati Soekarnoputri dengan PDI-Perjuangannya,” ucapnya.

Menurut Hendri, Prabowo pasti ingin membuktikkan ke Rakyat Indonesia bahwa dirinya memang pantas dan tepat sebagai Presiden Republik Indonesia. Prabowo juga ingin membuktikan bahwa memang seharusnya dia sudah dipilih oleh Rakyat sejak 10 tahun lalu.

Di sisi lain, lanjutnya, Megawati adalah simbol zaman politik yang masih ada. PDI Perjuangan pun punya kesempatan kembali menjadi partai wong cilik.

“Mengulang sejarah sebagai partai politik yang mampu menumbangkan tirani kekuasaan seperti saat dipilih rakyat menggantikan kuasa Soeharto dan Orde Baru,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *