NasionalPolitik

Anies Disebut Politisi Oportunis, Omongannya Tak Bisa Dipegang

5535
×

Anies Disebut Politisi Oportunis, Omongannya Tak Bisa Dipegang

Sebarkan artikel ini
Anies Baswedan dan Prabowo Subianto saat penetapan Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2024 di Gedung KPU RI pada Rabu, 24 April 2024. [Instagram @aniesbaswedan]

JAKARTA, Rilpolitik.com – Pegiat media sosial, Jhon Sitorus menyoroti manuver politik Capres nomor urut 01, Anies Baswedan beserta partai pengusungnya di Koalisi Perubahan usai Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan sengketa hasil Pilpres 2024. Menurutnya, mereka langsung mendekati Prabowo Subianto sebagai presiden terpilih 2024.

“Begitu putusan MK memenangkan Prabowo-Gibran, Anies serta partai pendukungnya langsung buru-buru mendekati Prabowo,” kata Jhon Sitorus lewat unggahannya di X pada Kamis (25/4/2024).

Pernyataan terbaru dari Anies usai penetapan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2024-2029 menunjukkan sikap Anies yang sudah berubah.

“Anies seolah berbalik 180⁰ dengan menyatakan Prabowo sebagai ‘teman’ dalam demokrasi. Anies juga menyatakan siap bertemu, bukan sekadar pertemuan di pleno KPU kemarin yang hanya terlihat sebagai formalitas,” ujar dia.

Jhon menyebut Anies sebagai politisi oportunis yang omonganya tidak bisa dipercaya. Dia curiga mantan Gubernur DKI Jakarta itu justru berharap jabatan menteri dari Prabowo.

“Ya Anies sejatinya politisi Oportunis, mulutnya tak bisa dipegang. Barangkali masih berharap jabatan menteri, sebagaimana AHY dalam kabinet Jokowi,” katanya.

Hal serupa juga dilakukan oleh partai politik pendukung Anies Baswedan yang terdiri dari PKB, Nasdem, dan PKS. PKB menjadi partai pertama di Koalisi Perubahan yang bertemu Prabowo usai penetapan Presiden dan Wapres terpilih 2024.

“Prabowo wajar memprioritaskan PKB karena Perolehan suaranya mencapai dua digit (10,61%) di Pileg 2024. Ini penting sebagai amunisi untuk melancarkan roda pemerintahan di Parlemen serta pilkada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, suara NU tetap mayoritas pada Prabowo,” ujarnya.

Sementara Nasdem, lanjut Jhon, justru lebih dulu menyambangi Prabowo lewat waketumnya, Ahmad Ali, meskipun tidak hadir dalam acara penetapan pemenang Pilpres 2024 oleh KPU kemarin.

“PKS? Ini partai yang ngarep banget sebenarnya ingin ada di kubu pemerintah, hanya saja belum kesampaian. PKS berulangkali sudah kasih ‘kode’ agar Prabowo mau bertemu dengan PKS dengan membuka ‘pintu lebar-lebar’ untuk Prabowo,” tuturnya.

Hanya saja, Jhon tidak begitu yakin koalisi Prabowo-Gibran akan menerima PKS bergabung.

“Soal PKS, sepertinya akan ada diskusi menarik di internal Prabowo-Gibran-Jokowi. Apa iya Jokowi family mau kerja sama dengan PKS? Sejauh mana kedekatan Prabowo-PKS dan seteru Jokowi-PKS bisa saling mengiklaskan untuk kepentingan koalisi?” ujarnya.

(War/rilpolitik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *